Koo Kien Keat Harapkan Piala Thomas 2020 Jadi Ajang Pemain Tampil Istimewa

Bulutangkis Terkini – Eks bintang ganda putra peringkat 1 dunia, Koo Kien Keat sudah memberi tantangan pada beberapa pemain muda di timnas Malaysia, menekan mereka untuk bermain dengan karisma serta karakter di Piala Thomas 2020.

Ia menjelaskan jika beberapa pebulutangkis ganda putra sekarang ini masih polos dan biasa saja.

Terkecuali beberapa pemain ini mengganti permainan mereka jadi sesuatu yang mengagumkan, Malaysia dapat mengharapkan laga yang memberikan keuntungan di kejuaraan Piala Thomas 2020 di Aarhus, Denmark, dari 3-11 Oktober.

Malaysia sudah menunjuk Aaron Chia/Soh Wooi Yik, Goh Sze Fei/Nur Izzuddin serta pasangan profesional, Teo Ee Yi/Ong Yew Sin untuk Piala Thomas 2020 ini.

Aaron yang berumur 23 tahun, Wooi Yik (22), Sze Fei (23) serta Izzuddin (22) dilatih oleh Flandi Limpele asal Indonesia.

“Peranan pelatih memang penting tetapi para pemain mempunyai tanggung jawab yang semakin besar untuk memetakan jalan karir mereka sendiri. Sayangnya, beberapa dari pemain kami adalah pengikut,” kata Koo Kien Keat, yang akan berumur 35 tahun pada 18 September.

“Saya tidak melihat suatu hal yang spesial pada pemain muda kami. Mereka cuma mengikuti gaya orang lain, ada yang coba mengambil gaya Indonesia,” kata Koo Kien Keat.

“Menjadi pemain spesial, juara… mereka harus mempunyai karisma, karakter, serta sikap sendiri, mereka harus luar biasa serta jadi ikon mereka sendiri,” katanya.

Sementara ia ingin melihat pemain Malaysia menguatkan diri sebagai bintang yang mempunyai rekam jejak baik, Kien Keat berharap para pemain muda tidak terlalu keras pada diri sendiri.

“Saya adalah seorang pemain dan saya memahami rintangan. Apa saja itu, jadilah yang Anda inginkan, tapi temukan ceruk serta gaya Anda sendiri. Jangan ikuti tekanan di luar. Saya berharap mereka akan terpacu untuk mengungguli orang lain,” katanya.

Koo Kien Keat Komentari Generasi Muda Bulutangkis Malaysia

Kien Keat baru berumur 19 tahun saat ia menoleh dengan penampilannya yang bagus, percaya diri, serta luar biasa selama acara besar pertama kalinya yaitu kejuaraan Piala Thomas 2004 di Jakarta, Indonesia.

Dengan Chew Choon Eng, mereka hampir membuat kejutan waktu menghadapi Eng Hian/Flandi Limpele asal Indonesia saat Malaysia kalah 1-3 di perempat final.

Itu adalah awal buat Kien Keat yang flamboyan saat dia jadi tidak mengenal takut serta berambisi dalam perjalanan untuk memenangi Asian Games (2006), All-England (2007) dan banyak gelar Open bersama-sama Tan Boon Heong.

Ganda ini juga hampir memenangi titel juara dunia sebelum kalah melawan Fu Haifeng/Cai Yun dari China di final Paris 2010.

“Saya disebut arogan sebab gaya permainan saya tetapi saya nikmati tiap momen yang saya mainkan sebagai Koo Kien Keat. Ini memberikan saya sensasi untuk melakukan bidikan indah yang sukses,” kata Kien Keat.

“Saya menyenangi gerakan gerakan ganda, tembakan yang menipu. Saya tetap melawan diri saya sendiri untuk mengantisipasi strategi musuh dan berkemauan memperlihatkan siapa yang lebih cepat. Itu semua tentang permainan pemikiran bagi saya, berusaha untuk mengintimidasi serta menyiasati musuh, beberapa melihatnya sebagai kesombongan tetapi tidak jadi masalah buat saya,” Kien Keat memberikan tambahan.

Kien Keat meninggalkan timnas pada 2014 serta mencoba lolos ke Olimpiade Rio 2016 sebagai pemain profesional tapi tidak berhasil lolos.

Ia berhenti bermain secara kompetitif serta jadi pelatih pengembangan Badminton Asia sekalian melakukan beberapa usaha online.

Saat ini, ia sudah membangun pusat training pribadinya yaitu stadion badminton KK Koo di Kota Damansara dan belakangan ini dipilih jadi duta untuk Young (awalnya dikenal sebagai Yang Yang), brand peralatan lokal.

“Saya berharap bisa menginspirasi generasi muda para pebulutangkis sebagai duta muda dengan memprioritaskan rasa percaya diri serta gaya berpakaian,” tegas Koo Kien Keat, ayah dua anak Nayson (enam) dan Kyra (tiga).